Akper dan Akbid Binaan Dinas Kesehatan

Primer vs Sekunder

Kelompok binaan ini termasuk kelompok primer di mana setiap anggotanya saling mengenal satu sama lain dan lebih personal. Komunikasi dan interaksi yang terrjalin antar anggotanya juga intensif karena jumlah anggota kelompok binaan tersebut yang relatif sedikit.

Formal vs Informal

Kelompok binaan ini termasuk kelompok binaan formal karena dibentuk langsung oleh Dinas Kesehatan Riau. Oleh karena itu, setiap anggota tidak dapat keluar masuk dengan mudah. Anggota kelompok ini berasal dari institusi keperawatan dan kebidanan.

Membership vs Reference

Kelompok binaan ini termasuk kelompok membership karena keanggotaannya tercatat dalam Dinas Kesehatan Riau.

Out Group vs In Group

Kelompok binaan ini termasuk kelompok ingroup karena anggota dari kelompok binaan akper dan akbid ini ingroup dari kelompok binaan tersebut.

Peran UMKM dalam Mengatasi Masalah Kemiskinan di Indonesia

Pada prinsipnya, UMKM merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UMKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.

Kinerja yang lebih membanggakan lagi dari UMKM ini, terutama dalam kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja. Walau hasil yang didapatkan dari kelompok usaha ini masih belum sebesar perusahaan besar, namun dalam perjalanannya UMKM selama ini telah mampu mengurangi angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.

UMKM selama ini telah menjadi sumber kehidupan dari sebagian besar rakyat Indonesia. Selain itu, kelompok usaha ini juga telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional dan ekspor. Pada tahun 2007, kontribusi UMKM terhadap PDB tercatat sebesar 53,6 persen atau scnilai Rp 2.121 triliun. Sedangkan kontribusi terhadap total nilai ekspor mencapai Rp 142,8 triliun atau 20 persen dari total ekspor.

Saat ini UMKM di Indonesia terdapat lebih dari 49,8 juta unit usaha dan dapat menyerap tenaga kerja lebih dari 91,8 juta orang. Ini berarti lebih dari 97,3 persen penciptaan lapangan kerja merupakan dari kontribusi UMKM. Berdasarkan fakta ini, upaya pemberdayaan UMKM akan menanggulangi masalah kemiskinan, penganguran, dan meningkatkan penciptaan lapangan kerja.

UMKM bagi perusahaan korporat, yaitu sebgai sumber pasokan dan kumpulan jasa lokal yang dibutuhkan perusahaan korporat. UMKM juga memiliki pemahaman yang luas mengenai sumber daya pola pemasokan dan tren pembelian secara lokal. Bermitra dengan UMKM, korporat dapat membangun sebuah basis pelanggan baru yang tidak dapat dijangkau oleh jaringan distribusi korporat tersebut. UMKM sebagai sumber inovasi memiliki strategi sendiri dan cenderung menguasai pasar tertentu yang tidak dimiliki perusahaan lain.

Dampak Adanya UMKM Bagi Masyarakat Miskin di Indonesia

Adanya UMKM menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Studi menunjukkan bahwa UMKM memberi kontribusi yang besar bagi lapangan kerja di banyak negara. Kemuadian pemanfaatan sumber daya lokal, yaitu dengan memaksimalkan pemanfaatan bahan mentah lokal yang membutuhkan teknologi sederhana. Memperbesar Output, yaitu dengan memberi kontribusi yang sangat besar pada output nasional dalam eknomi rakyat. Mendorong pengembangan inovasi dan teknologi. Semua industri modern dimulai dari industri yang sederhana, dan negara berkembang dapat melakukan “lompatan kodok” untuk maju dengan meniru pengalaman negara maju. UMKM juga memproduksi barang setengah jadi bagi perusahaan korporat besar.

Berkembangnya UMKM membuat masyarakat tidak perlu kesulitan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Bahkan komunitas wanita di kelurahan dapat memperoleh keuntungan dari UMKM ini yakni mereka masih dapat berperan ganda tanpa meninggalkan tugas ibu rumah tangga dalam mendapatkan hasil tambahan.

Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai penyedia lapangan kerja tidak perlu diragukan lagi. Peningkatan unit UMKM wanita atau perempuan, ternyata berdampak positif untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun, UMKM perempuan masih mengalami banyakpermasalahan karena ketidakadilan struktur maupun budaya.

Upaya perempuan mengelola usaha kelas mikro ini nampak pada pertumbuhan secara kuantitatif jumlah pelaku usaha kecil di Indonesia tahun 2001 yang mencapai 40.137.773 juta (99,86%) dari total jumlah pelaku usaha 40.197.61 juta, sementara pelaku usaha mikro mencapai 97,6% dari jumlah pelaku usaha kecil (BPS 2001). Tentu saja jumlah tersebut menunjukkan kontribusi sangat besar usaha mikro terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut perhitungan BPS dengan jumlah tersebut usaha mikro mampu menyediakan 99,04% lapangan kerja Nasional, sumbangan terhadap PDB mencapai 63,11% dan memberikan pemasukan sebesar 14,20% di luar non migas, (BPS, 2001).

Nilai strategis lain usaha kecil-mikro adalah kemampuannya menjadi sarana pemerataan kesejahteraan rakyat. Karena jumlah besar, biasanya bersifat padat karya sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang besar, meskipun ukuran unitnya kecil tetapi jumlah banyak memungkinkan orang lebih banyak terlibat untuk menarik manfaat di dalamnya.

Lebih lanjut, pada tahun sebelumnya (BPS, 2000) dari jumlah 2.002.335 unit usaha kecil, dan 194, 564 unit usaha mikro, di sektor pengolahan jumlah perempuan pelaku ada 896.047 (40,79%), dan angka tersebut diyakini lebih besar lagi mengingat bahwa data tersebut dibuat berdasarkan kepemilikan formal, bukan pelaku (riil) usaha. Keyakinan ini berdasarkan pada realitas adanya hambatan mobilitas perempuan dalam usaha, bahkan beberapa pengalaman menunjukkan bahwa usaha yang semula dirintis oleh perempuan, setelah usaha tersebut berkembang pengelolaan dan kepemilikan formalnya bergeser pada laki-laki, karena membutuhkan mobilitas tinggi.

Kelemahan dan Kelebihan UMKM dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Namun kenyataannya, banyak pula sektor UMKM yang kondisinya kembang kempis. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen.

Walau UMKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UMKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UMKM secara umum.

Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:

  1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UMKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
  2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UMKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UMKM. Padahal jika produk UMKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar.
  3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UMKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UMKM. 
  4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UMKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
  5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UMKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UMKM.

      Meski demikian, di tengah banyaknya UMKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UMKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UMKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UMKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UMKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Profil Unit Bisnis Serambi Botani

Serambi Botani adalah tempat berbagai hasil inovasi, teknologi, penelitian, dan pengabdian civitas akademika Institut Pertanian Bogor (IPB) yang merupakan salah satu bentuk usaha yang berada di bawah Departemen Bisnis dan Kemitraan Institut Pertanian Bogor. Serambi Botani terletak di salah satu mall strategis di kota Bogor, yaitu Botani Square. Kehadiran Serambi Botani adalah untuk mengomunikasikan karya IPB ke masyarakat luas. Serambi Botani sendiri merupakan perpaduan antara kafe dan toko.

Serambi Botani Café merupakan kafe yang mengutamakan kualitas produk yang baik untuk kesehatan, terjamin lebih alami, higienis dan bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya bagi tubuh karena proses pembuatannya diawasi langsung oleh para ahli dan peneliti yang merupakan dosen-dosen Institut Pertanian Bogor yang ahli dibidangnya.

Selain kafe, Serambi Botani merupakan toko yang menyajikan aneka produk-produk sehat, aman dan terjamin karena aspek kesehatan dan keterjaminan menjadi prioritas, selain aspek terpeliharanya kelestarian alam dan lingkungan. Sesuai dengan tujuannya, produk yang dijual merupakan produk-produk hasil penelitian para mahasiswa dan dosen di IPB. Produk yang dijual mulai dari produk-produk konsumsi hingga produk kosmetik dan perawatan tubuh yang tentunya alami dan sehat, seperti mie substitusi jagung, buah-buahan dengan kualitas unggul, sabun madu, bibit unggul, dan lain-lain.

Outlet Serambi Botani juga melayani konsultasi agribisnis. Jasa konsultasi agribisnis merupakan pelayanan yang ditawarkan para pakar IPB di berbagai bidang kepada masyarakat khususnya para pengusaha yang telah atau akan menjalankan bisnis pertanian dalam arti luas untuk menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi. Ruang lingkup konsultasi mencakup antara lain: peningkatan produktivitas budidaya, pengendalian hama penyakit, peningkatan produktivitas dan efisiensi  proses pengolahan, pengendalian mutu, pengembangan produk dan analisis peluang maupun kelayakan usaha agribisnis.

Segmentasi Pasar

Serambi Botani merupakan sebuah unit usaha yang menjual produk-produk dari hasil penelitian IPB seperti yang telah dijelaskan pada profil unit usaha di atas mempunyai hasil produk yang berkualitas, sehingga harga yang ditawarkan termasuk harga yang berada di atas rata-rata. Harga yang tidak murah ini dikarenakan kualitas barang yang dijual di unit bisnis ini merupakan barang-barang yang mempunyai kualitas unggul hasil penelitian IPB. Selain kualitas unggul, barang-barang ini juga merupakan bahan alami yang sehat dan sudah teruji.

Lokasi tempat penjualan barang-barang ini pun merupakan lokasi yang sangat strategis yaitu di Mall Botani Square yang terletak di pusat kota Bogor dan memiliki akses transportasi yang mudah. Selain itu, pemasok yang mendistribusikan produk-produk tersebut adalah pemasok yang masih dalam skala kecil. Harga yang relatif tinggi dibuat untuk mendapatkan laba yang tinggi pula agar dapat mempertahankan unit usaha para pemasok tersebut sehingga secara tidak langsung Serambi Botani ditujukan untuk kalangan menengah ke atas.

Produk dan Jasa yang Ditawarkan di Unit Bisnis Serambi Botani

Serambi Botani ini menyajikan produk dari hasil penelitian di IPB yang berkualitas, sehat, dan alami. Unit usaha ini juga menawarkan produk-produk seperti sayuran organik, madu, minuman herbal, yoghurt, brownies, massage oil, kopi, mie, coklat, essential oil, dan lain-lain. Selain menyediakan produk, unit usaha ini juga menawarkan jasa konsultasi agribisnis namun sampai saat ini belum terealisasi sepenuhnya dikarenakan kurangnya tenaga profesional yang kompeten di bidang ini. Selain itu Serambi Botani lebih memfokuskan kepada produknya dibandingkan jasa konsultasi agribisnis ini.

Jenis Komunikasi dengan Stakeholder

Komunikasi Internal

- Pemilik

Komunikasi dengan pemilik usaha dimaksudkan untuk melakukan pertukaran informasi secara timbal balik, sehingga dapat memberikan informasi kepada pemilik mengenai keberadaan dan posisi perusahaan. Komunikasi dengan pemilik bertujuan untuk membangkitkan perhatian pemilik perusahaan, mengurangi pergantian pemegang saham dan mempromosikan pemilikan saham, meningkatkan prestise perusahaan di mata pemilik, membujuk pemilik agar mau turut mempromosikan barang. Pemilik dari unit usaha Serambi Botani adalah IPB sendiri yaitu bagian Departemen Bisnis dan Kemitraaan IPB. Serambi Botani dikelola oleh Meika Sabana Rusli sebagai Direktur Bisnis IPB. Akan tetapi, yang langsung melakukan pengawasan pada saat di Serambi Botani adalah Bapak Dwiko sebagai manajer Serambi Botani. Kegiatan komunikasi yang berlangsung dengan pemilik biasanya menggunakan laporan-laporan, baik itu laporan keuangan, laporan kinerja karyawan maupun laporan tentang hasil produk. Laporan-laporan tersebut kemudian dilaporkan pada bagian Departemen Bisnis dan Kemitraan IPB.

- Karyawan

Karyawan merupakan bagian yang penting dalam sebuah perusahaan karena karyawan adalah bagian integral perusaahaan yang bersentuhan langsung dengan proses produksi ataupun dengan pelanggan. Serambi Botani melakukan Downward dan Upward Communication dalam menjalankan usahanya. Downward yang ada berupa pemberian instruksi atau perintah yang biasanya dilakukan oleh pihak pengelola Serambi Botani kepada para karyawan. Upward Communication juga terjadi di dalam bisnis ini, seperti penyampaian aspirasi para karyawan yang diasmpaikan kepada pihak pengelola Serambi Botani. Komunikasi tersebut dilakukan pada briefing yang dilakukan setiap minggu. Dalam briefing tersebut biasanya dibicarakn masalah mengenai toko, produk, pegawai dengan pengelola, dan pihak IPB.

- Manajemen

Pihak manajemen bertugas melaksanakan aktivitas bisnis yang sebelumnya melalui proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Struktur manajemen dalam Serambi Botani yang memiliki tanggung jawab sebagai pihak manajemen adalah Meika Sabana Rusli sebagai Direktur Bisnis IPB, Bapak Dwiko sebagai manajer Serambi Botani, Supervisor, dan karyawan. Seorang manajer biasanya melakukan pengawasan seputar karyawan mulai dari sikap karyawan, penerapan kebijakan perusahaan, dan komplain karyawan. Seorang supervisor biasanya melakukan tanggung jawab seputar hubungan dan kebijakan dengan bagian lain dan hubunganya dengan manjeman yang lebih tinggi.

Eksternal

 -  Pelanggan

Pelanggan merupakan sumber penjualan barang, yang dapat memilih dan menentukan produk yang akan digunakan. Tujuan komunikasi dengan pelanggan adalah untuk meyakinkan para pelanggan dan calon pelanggan bahwa produk atau jasa akan terus ditingkatkan baik kualitas, kegunaan, serta macamnya. Komunikasi eksternal yang dilakukan oleh Serambi Botani dengan pelanggan terjalin dengan baik, para karyawan sudah menganggap pelanggan Serambi Botani sebagai bagian dari keluarga. Para karyawan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para konsumen, sehingga konsumen pun akan menjadi pelanggan di Serambi Botani. Cara komunikasi yang dilakukan oleh Serambi Botani untuk memasarkan produk-produknya kepada pelanggan melalui media massa, yaitu dengan masuk ke dalam salah satu program berita. Selain itu, pelanggan juga mendapatkan informasi mengenai segala sesuatu mengenai Serambi Botani melalui websitenya. Para karyawan juga berkomunikasi secara interpersonal dengan para pelanggan. Oleh karena itu, kedekatan antara pihak Serambi Botani dan pelanggan terjalin dengan baik.

 -  Pemasok

 Pemasok menginginkan transaksi dengan organisasi lembaga bisnis yang memuaskan. Ada tiga faktor yang mendasari hubungan dengan pemasok, yaitu kualitas bahan baku, pelayanan terhadap kebutuhan produksi dan harga yang wajar. Serambi Botani memiliki pemasok dan penyalur yang sama yaitu mahasiswa, alumni, dan dosen IPB. Komunikasi eksternal yang dilakukan pihak Serambi Botani dengan penyalur maupun pemasok juga terjalin dengan baik. Pihak Serambi Botani menggunakan pola kemitraan dengan pihak penyalur maupun pemasok, artinya adanya kerjasama dengan pihak penyalur yang dilandasi dengan hubungan baik dan saling menguntungkan. Para pemasok biasanya memasok barang-barang seperti Beras Organik, Mie Sayur, dan Brownies Singkong.

-  Penyalur

Serambi Botani memiliki pemasok dan penyalur yang sama yaitu mahasiswa, alumni, dan dosen IPB. Komunikasi eksternal yang dilakukan pihak Serambi Botani dengan penyalur maupun pemasok juga terjalin dengan baik. Pihak Serambi Botani menggunakan pola kemitraan dengan pihak penyalur maupun pemasok, artinya adanya kerjasama dengan pihak penyalur yang dilandasi dengan hubungan baik dan saling menguntungkan.

Gaya Komunikasi yang Digunakan Pelanggan: Equalitarian, Internal: Structuring

a. Pelangan

     Serambi Botani dalam berkomunikasi dengan pelanggan menggunakan gaya komunikasi Equalitarian Style, yaitu gaya komunikasi yang mengutamakan landasan kesamaan dalam komunikasinya, ditandai dengan komunkasi yang cenderung dua arah dan terbuka. Penulis mengambil gaya ini karena komunikasi dengan pelanggan bertujuan untuk membina hubungan baik. Para menajemen dan karyawan menunjukan sikap yang akrab dan hangat, memiliki maksud untuk menstimulasi orang lain dengan tujuan untuk menekankan pengertian bersama. Hal ini dapat ditujukan dengan komunkasi yang terjalin dengan baik, para karyawan sudah menganggap pelanggan Serambi Botani sebagai bagian dari keluarga.

b. Internal Serambi Botani

     Gaya berkomunikasi antara para manajemen dan karyawan dapat bermacam-macam tergantung dari kondisi kebijakan, kondisi para karyawan, dan juga bagaimana kondisi lingkungan kerja mereka. Serambi botani sendiri memiliki dua gaya komunikasi yang dominan yaitu Structuring dan Relinquishing. Structuring terlihat dari adanya komunikasi-komunikasi yang berfungsi untuk memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas, dan pekerjaan serta stukrtur organisasi. Hal ini biasanya dilakukan pada saat briefing setiap minggunya. Gaya komunkasi ini juga terlihat dengan perilaku yang objektif dan tidak memihak. Gaya komunikasi ini bertujuan untuk menyistemisasi lingkungan kerja dan memantapkan struktur. Gaya Relinquishing terlihat dengan adanya Komunikasi Downward, dicirikan dengan kesediaan menerima gagasan orang lain dan bertujuan untuk mendukung pandangan orang lain. Setiap minggunya Serambi Botani mengadakan briefing yang menjadi ajang para karyawan untuk menyampaikan aspirasi kepada pihak pengelola. Dua gaya komunikasi diatas dominan dipakai di Serambi Botani, walaupun kadang-kadang Serambi Botani juga menggunakan Gaya Controlling.

Kekuasaan yang Ada Dalam Unit Bisnis Serambi Botani: Legitimate

Kekuasaan yang digunakan dalam Serambi Botani cenderung menggunakan Legitimate Power, yaitu kekuasaan yang sebenarnya ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi. Serambi Botani adalah unit bisnis IPB yang berada di bawah Departemen Bisnis dan Kemitraan IPB dan menunjuk Bapak Meika Sabana Rusli sebagai Direktur Bisnis IPB yang secara tidak langsung mempunyai kewenangan untuk mengelola unit bisnis IPB seperti Serambi Botani.

Gaya Kepemimpinan Dalam Unit Bisnis Serambi Botani

Gaya Kepemimpinan Situasional bergantung dari situasi yang dihadapi para pemimpin pada saat menghadapi para karyawannya. Gaya kepemimpinan ini juga bergantung dari kondisi karyawan. Gaya Directing dapat diterapkan pada saat penerimaan karyawan baru karena gaya ini diterapkan pada saat staf belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut. Lalu Gaya Coaching yang digunakan pada saat bawahan telah termotivasi dan berpangalaman dalam menghadapi tugas. Gaya Supporting digunakan bila karyawan telah mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang dekat dengan pimpinan, dalam gaya ini staf sudah mulai dilibatkan dalam proses-proses pembuatan keputusan. Gaya Delegating digunakan bila bawahan telah memahami sepenuhnya, paham dan efisien dalam kinerja tugas, dan dapat melepaskan mereka menjalani tugas sendiri. Serambi Botani melakukan gaya kepemimpinan yang dinamis yaitu gaya kepemimpinan yang betahap, dari Gaya Kepemimpinan Directing sampai pada akhirmya Gaya Kepemimpinan Delegating karena para pimpinan menginginkan staf menjadi karyawan yang mendiri. Adanya karyawan yang mandiri dapat mempercepat kinerja perusahaan dan karyawan menjadi lebih produktif.

Gaya kepemimpinan pada Serambi Botani cenderung demokratis karena para karyawan dapat ikut memyampaikan aspirasi mereka kepada pengelola Serambi Botani. Hal tersebut menunjukkan peran pengambilan keputusan bukan hanya ada pada para pemimpin.