Peran UMKM dalam Mengatasi Masalah Kemiskinan di Indonesia

Pada prinsipnya, UMKM merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UMKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.

Kinerja yang lebih membanggakan lagi dari UMKM ini, terutama dalam kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja. Walau hasil yang didapatkan dari kelompok usaha ini masih belum sebesar perusahaan besar, namun dalam perjalanannya UMKM selama ini telah mampu mengurangi angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.

UMKM selama ini telah menjadi sumber kehidupan dari sebagian besar rakyat Indonesia. Selain itu, kelompok usaha ini juga telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional dan ekspor. Pada tahun 2007, kontribusi UMKM terhadap PDB tercatat sebesar 53,6 persen atau scnilai Rp 2.121 triliun. Sedangkan kontribusi terhadap total nilai ekspor mencapai Rp 142,8 triliun atau 20 persen dari total ekspor.

Saat ini UMKM di Indonesia terdapat lebih dari 49,8 juta unit usaha dan dapat menyerap tenaga kerja lebih dari 91,8 juta orang. Ini berarti lebih dari 97,3 persen penciptaan lapangan kerja merupakan dari kontribusi UMKM. Berdasarkan fakta ini, upaya pemberdayaan UMKM akan menanggulangi masalah kemiskinan, penganguran, dan meningkatkan penciptaan lapangan kerja.

UMKM bagi perusahaan korporat, yaitu sebgai sumber pasokan dan kumpulan jasa lokal yang dibutuhkan perusahaan korporat. UMKM juga memiliki pemahaman yang luas mengenai sumber daya pola pemasokan dan tren pembelian secara lokal. Bermitra dengan UMKM, korporat dapat membangun sebuah basis pelanggan baru yang tidak dapat dijangkau oleh jaringan distribusi korporat tersebut. UMKM sebagai sumber inovasi memiliki strategi sendiri dan cenderung menguasai pasar tertentu yang tidak dimiliki perusahaan lain.

Dampak Adanya UMKM Bagi Masyarakat Miskin di Indonesia

Adanya UMKM menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Studi menunjukkan bahwa UMKM memberi kontribusi yang besar bagi lapangan kerja di banyak negara. Kemuadian pemanfaatan sumber daya lokal, yaitu dengan memaksimalkan pemanfaatan bahan mentah lokal yang membutuhkan teknologi sederhana. Memperbesar Output, yaitu dengan memberi kontribusi yang sangat besar pada output nasional dalam eknomi rakyat. Mendorong pengembangan inovasi dan teknologi. Semua industri modern dimulai dari industri yang sederhana, dan negara berkembang dapat melakukan “lompatan kodok” untuk maju dengan meniru pengalaman negara maju. UMKM juga memproduksi barang setengah jadi bagi perusahaan korporat besar.

Berkembangnya UMKM membuat masyarakat tidak perlu kesulitan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Bahkan komunitas wanita di kelurahan dapat memperoleh keuntungan dari UMKM ini yakni mereka masih dapat berperan ganda tanpa meninggalkan tugas ibu rumah tangga dalam mendapatkan hasil tambahan.

Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai penyedia lapangan kerja tidak perlu diragukan lagi. Peningkatan unit UMKM wanita atau perempuan, ternyata berdampak positif untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun, UMKM perempuan masih mengalami banyakpermasalahan karena ketidakadilan struktur maupun budaya.

Upaya perempuan mengelola usaha kelas mikro ini nampak pada pertumbuhan secara kuantitatif jumlah pelaku usaha kecil di Indonesia tahun 2001 yang mencapai 40.137.773 juta (99,86%) dari total jumlah pelaku usaha 40.197.61 juta, sementara pelaku usaha mikro mencapai 97,6% dari jumlah pelaku usaha kecil (BPS 2001). Tentu saja jumlah tersebut menunjukkan kontribusi sangat besar usaha mikro terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut perhitungan BPS dengan jumlah tersebut usaha mikro mampu menyediakan 99,04% lapangan kerja Nasional, sumbangan terhadap PDB mencapai 63,11% dan memberikan pemasukan sebesar 14,20% di luar non migas, (BPS, 2001).

Nilai strategis lain usaha kecil-mikro adalah kemampuannya menjadi sarana pemerataan kesejahteraan rakyat. Karena jumlah besar, biasanya bersifat padat karya sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang besar, meskipun ukuran unitnya kecil tetapi jumlah banyak memungkinkan orang lebih banyak terlibat untuk menarik manfaat di dalamnya.

Lebih lanjut, pada tahun sebelumnya (BPS, 2000) dari jumlah 2.002.335 unit usaha kecil, dan 194, 564 unit usaha mikro, di sektor pengolahan jumlah perempuan pelaku ada 896.047 (40,79%), dan angka tersebut diyakini lebih besar lagi mengingat bahwa data tersebut dibuat berdasarkan kepemilikan formal, bukan pelaku (riil) usaha. Keyakinan ini berdasarkan pada realitas adanya hambatan mobilitas perempuan dalam usaha, bahkan beberapa pengalaman menunjukkan bahwa usaha yang semula dirintis oleh perempuan, setelah usaha tersebut berkembang pengelolaan dan kepemilikan formalnya bergeser pada laki-laki, karena membutuhkan mobilitas tinggi.

Kelemahan dan Kelebihan UMKM dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Namun kenyataannya, banyak pula sektor UMKM yang kondisinya kembang kempis. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen.

Walau UMKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UMKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UMKM secara umum.

Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:

  1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UMKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
  2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UMKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UMKM. Padahal jika produk UMKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar.
  3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UMKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UMKM. 
  4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UMKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
  5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UMKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UMKM.

      Meski demikian, di tengah banyaknya UMKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UMKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UMKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UMKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UMKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Comments are closed.